Masalah ini juga dialami pembalap lain.
Rekan setim dari Marquez yaitu Francesco Bagnaia, menjadi korban di Brno akibat kerusakan dasbor.
Bagnaia secara keliru meyakini Ia berada di bawah batas minimum, sehingga secara sukarela membiarkan beberapa pembalap lewat dan turun dari posisi kedua ke posisi ketujuh.
Setelah balapan, barulah diketahui bahwa Ia sebenarnya sudah aman dari ambang batas sepanjang waktu.
Kejadian ini menjadi bukti betapa sensitifnya peraturan ini dan bagaimana kesalahpahaman bisa sangat merugikan.
Usulan Marquez: Mengurangi Bobot Penalti
Meskipun Ia setuju dengan keberadaan aturan tersebut, Marquez berpendapat bahwa penalti tekanan ban MotoGP saat ini tidak masuk akal.
Ia secara spesifik mengusulkan agar hukuman dikurangi menjadi setengahnya.
“Bagi saya, kurangi penaltinya menjadi setengahnya, misalnya 4 detik untuk Sprint dan 8 detik untuk balapan panjang, Itu akan lebih masuk akal,” kata Marquez.
Usulan ini sangat kontras dengan sanksi yang berlaku saat ini, dimana +8 detik untuk balapan Sprint (jika gagal memenuhi 30% putaran) dan +16 detik untuk Grand Prix (jika gagal memenuhi 60% putaran).
Marquez menjelaskan bahwa besaran penalti saat ini sangat memberatkan dan hampir tidak mungkin bagi pembalap untuk membangun margin kemenangan yang cukup untuk mengatasinya.
Ia menekankan, “Dalam Sprint Race, Anda tidak bisa melakukannya, Anda tidak bisa memperlebar jarak delapan detik.”
Namun, hal tersebut juga menyoroti risiko dari usulan ini.
Pengurangan penalti bisa jadi mendorong lebih banyak pembalap untuk sengaja balapan di bawah batas aman, yang justru bertentangan dengan tujuan awal peraturan ini.
Sebagai alternatif, Michelin sebagai pemasok ban utama, terbuka untuk menerapkan penalti di tengah balapan untuk menghindari keputusan pasca balapan yang kontroversial.
Pada akhirnya, ini bukan hanya persoalan teknis masalah ban MotoGP saja, melainkan juga soal keadilan dan semangat balapan itu sendiri, yang terus memicu perdebatan di paddock.

