BIKERSEXPERT.COM – Di tengah semangat global untuk beralih ke mobilitas listrik, muncul ancaman baru yang serius yaitu terjadinya modus pencurian kabel SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum) yang kian merajalela.
Yang membuat masalah ini semakin pelik adalah ketimpangan ekstrem antara nilai tembaga yang dicuri dengan biaya perbaikan yang harus ditanggung oleh operator.
Bayangkan saja, biaya yang harus dikeluarkan untuk perbaikan satu unit stasiun pengisian bisa mencapai 50 kali lipat dari nilai tembaga hasil curian itu sendiri.
Hal ini bukan sekadar vandalisme biasa, melainkan ancaman nyata bagi keberlangsungan dan pengembangan infrastruktur kendaraan listrik (EV) global.
Kerugian finansial yang masif dan gangguan operasional menjadi dampak pencurian infrastruktur EV yang tidak bisa diabaikan.
Modus Pencurian Kabel SPKLU dan Skala Kerusakan SPKLU Global
Modus pencurian kabel SPKLU ini pada praktiknya cukup sederhana namun dampaknya bisa besar.
Para pelaku kejahatan menargetkan pada kabel pengisian daya di stasiun-stasiun SPKLU, lalu mereka akan mengambil tembaga yang ada di dalam SPKLU tersebut.
Logam tembaga menjadi incaran para pelaku karena harganya yang tinggi di pasar gelap, hal tersebut didorong oleh peningkatan permintaan global dan ketegangan geopolitik yang memengaruhi pasokan dari tembaga ini.
Sayangnya, tindakan ini seringkali dilakukan dengan merusak komponen lain, meninggalkan stasiun pengisian daya dalam kondisi tidak dapat berfungsi lagi seperti semula.
Skala kerusakan SPKLU akibat pencurian ini sudah mengkhawatirkan di berbagai negara.
Di Inggris misalnya, jaringan fast-charging besar seperti InstaVolt telah melaporkan lebih dari 700 stasiun pengisian daya mereka dirusak.
Ironisnya, nilai tembaga yang berhasil dicuri dari setiap kabel hanya berkisar antara £20 hingga £25 atau sekitar Rp400.000 hingga Rp500.000 saja.
Namun, biaya yang harus dikeluarkan untuk perbaikan dari satu stasiun pengisian daya yang rusak ini dapat mencapai angka yang fantastis yakni sekitar £1.000 atau sekitar Rp19 juta.
Ini berarti biaya perbaikan bisa mencapai 50 kali lipat lebih tinggi dari keuntungan yang didapatkan oleh pelaku.
Di Amerika Serikat, masalah serupa juga menimpa jaringan Tesla Supercharger di beberapa wilayah seperti Bay Area, Houston dan Fresno, serta stasiun pengisian Level 2 dan DC Fast Charging lainnya.

